Karakteristik Sosial/ Emosional Anak Tunadaksa


Karakteristik sosial/emosional anak tunadaksa bermula dari konsep diri anak yang merasa dirinya cacat, tidak berguna, dan menjadi beban orang lain yang mengakibatkan mereka malas belajar, bermain dan perilaku salah lainnya.
Kehadiran anak cacat yang  tidak diterima oleh  orang tua  dan disingkirkan dari masyarakat akan merusak perkembangan pribadi anak.

Karakteristik Akademik Anak Tunadaksa


Pada umumnya tingkat kecerdasan anak tunadaksa yang mengalami kelainan pada sistem otot dan rangka adalah normal sehingga dapat mengikuti pelajaran sama dengan anak normal, sedangkan anak tunadaksa yang mengalami kelainan pada sistem cerebral, tingkat kecerdasannya berentang mulai dari tingkat  idiocy  sampai dengan  gifted. Hardman (1990) mengemukakan bahwa 45% anak cerebral palsy mengalami keterbelakangan mental (tunagrahita), 35% mempunyai tingkat kecerdasan normal dan di atas normal.
Sisanya berkecerdasan sedikit di bawah rata-rata. Selanjutnya, P. Seibel (1984:138) mengemukakan bahwa  tidak ditemukan hubungan secara langsung antara tingkat kelainan fisik dengan kecerdasan anak. Artinya,  anak cerebral palsy  yang kelainannya berat, tidak berarti kecerdasannya rendah.

Klasifikasi Tunadaksa

Dilihat dari sistem kelainannya tunadaksa dibagi menjadi 2 kelompok:

1. Kelainan sistem cerebral
2. Kelainan sistem otot dan rangka

Penyandang kelainan pada sistem cerebral, kelainannya terletak pada sistem saraf pusat,  seperti  cerebral palsy  (CP) atau kelumpuhan otak. Cerebral palsy ditandai oleh adanya kelainan gerak, sikap atau bentuk tubuh, gangguan koordinasi, kadang-kadang disertai gangguan psikologis dan sensoris yang disebabkan oleh adanya kerusakan atau kecacatan pada masa perkembangan otak. Soeharso (1982) mendefinisikan cacat  cerebral palsy sebagai  suatu cacat yang terdapat pada fungsi otot dan urat saraf dan penyebabnya terletak dalam otak. Kadang-kadang juga terdapat gangguan pada pancaindra, ingatan, dan psikologis (perasaan).

Faktor Penyebab


1. Faktor yang bersifat secara langsung (pencetus)
a. Sebelum Kelahiran :
  • kelainan herediter,
  • kelainan bawaan, dan
  • gangguan lingkungan pada saat kelahiran.

PENGERTIAN ANAK TUNADAKSA

Anak tunadaksa sering disebut dengan istilah anak cacat tubuh, cacat fisik, dan cacat ortopedi. Istilah tunadaksa berasal dari kata  “tuna yang berarti rugi atau kurang dan daksa yang berarti tubuh“. Tunadaksa adalah anak yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna, sedangkan istilah cacat tubuh dan cacat fisik dimaksudkan untuk menyebut anak cacat pada anggota tubuhnya, bukan cacat indranya. Selanjutnya istilah cacat ortopedi terjemahan dari bahasa Inggris orthopedically handicapped. Orthopedic mempunyai arti yang berhubungan dengan otot, tulang, dan persendian. Dengan demikian, cacat ortopedi kelainannya terletak pada aspek otot, tulang dan persendian atau dapat juga merupakan akibat adanya kelainan yang terletak pada pusat pengatur sistem otot, tulang dan persendian. 
Copyright 2009 Don't Have a Dis-Ability, But Have a Different-Ability. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy